Lembaran Baru
Pertama kali menemukan kata hiatus, dari Adis – ex teman sekamar. Dia menggunankan kata tersebut dalam judul postingan blognya untuk menginformasikan kepada pembaca setianya kalau dalam jangka waktu yang tidak ditentukan, akan menghilang dari dunia perblogeran, alias tidak mengupdate postingnnya. Nah sekarang saya juga merasaknnya, hitaus. Hmmm, lama juga saya tidak membuat postingan baru….
***
Beberapa bulan terakhir waktu terasa berjalan sangat cepat : pekerjaan yang terus menerus tiada henti, kuliah kemudian ujian, dan yang paling terasa ketika saya putuskan untuk mengakhiri masa lajang beberapa bulan yang lalu. Akhirnya saya menikah, hehe….
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidap saya. Merubah status dari single ke married bukanlah hal yang gampang. Saat kita memutuskan untuk menikah berati kita siap akan konsekuensinya, yang terburuk sekalipun.
Masalah utamanya bukan lancar tidaknya acara saat resepsi pernikahan tapi setelahnya, bagaimana kita membina keluarga, menggabungkan dua insan yang berbeda menjadi satu. Kata pak Sotar, atasanku di kantor ”setelah menikah kamu pasti akan dikejutkan sama istrimu”. Benar saja, satu bulan pertama saya dipusingkan dengan proses pencocokan. Saya harus menerima kekurangan dia dan dia harus menerima kekurangan saya. Menurut bisik-bisik teman yang telah berkeluarga, hal tersebut akan berlangsung paling tidak sampai satu tahun berselang, hwaduh….
Beberapa waktu lalu, Widada – temanku lainnya, bertanya yang membuat kening saya berkerut karena memikirkan jawaban yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya. “Jujur yah, apakah setelah menikah kamu lebih bahagia dibandingkan saat masih single?”
Saya tidak bisa mengatakan lebih bahagia. Menikah membuat banyak batasan. Sekarang tidak sebebas dulu, menghabiskan gaji sendirian, makan dimanapun kapanpun, hangout bareng temen-temen, haha hihi bersama…. Kehidupan saya seolah berubah 90 derajat.
Saya juga tidak bisa mengatakan setelah menikah tidak lebih bahagia dibanding saat masih sendiri. Kini ada orang yang selalu ingin saya cintai dan saya ingin selalu dicintainya. Ketika saya merasa miskin karena harus membagi penghasilan/gaji, hati saya justru semakin kaya karena saya memiliki dua hati, bahagia dia adalah bahagiaku juga; dan saat berkumpul besama teman-teman berkurang, saya bisa bercengkrama dengan istri tercinta.
Menikah memang sebuah pilihan namun sampai kapan kita akan menikmati status kita sebagai single. Dan bukankah kita memang harus tetap bergerak. Tidaklah mungkin terus menjadi anak kecil, pada akhirnya kita juga akan menjadi remaja kemudian dewasa dan menikah adalah metamorphosis kehidupan yang seharusnya tidak kita tolak (asal mampu).
Terakhir saya katakan ke Widada bahwa keputusan saya menikah (semoga) akan berakhir happy ending. Bak sebuah buku, saya sedang membuka lembaran baru kehidupan dengan judul bab “setelah menikah”. Cerita berikutnya ternyata lebih berwarna, ada kisah sedih, senang, terlebih saat istri saya positif hamil kisahnya semakin mengharukan. Semoga happy ending di akhir bukuku benar terjadi. Amiiin.
<p><a href=”http://www.facebook.com/sharer.php?u=<?php the_permalink();?>” title=”<?php the_title();?>, share on Facebook” rel=”nofollow” target=”_blank”><img src=”http://alkatro.mw.lt/images/facebookshare.png” alt=”Share on Facebook”></a> </p>




amien3x….
barakallah ya….alhamdulillah…
arifah
April 26, 2010 pada 15:07