Arsip untuk Juli 2009
Persepsi Kebahagiaan

Kepalaku termangguk-angguk menonton Fenny Rose dan temannya menawarkan perumahan elite di Metro TV. Senyum mereka terus mengembang sambil menelusuri sudut-sudut rumah. Setiap view yang ditampilkan adalah kemewahan. Bibirku semakin mengangga ketika Fenny Rose menutup acara itu, “Sungguh penawaran yang sangat fantastis, dengan harga hanya Rp. 1,8 milyar kita sudah dapat rumah yang wah ini. Cepetan persediaan terbatas!”.
Acara diatas mungkin hanya ditujukan untuk kaum borjuis, orang-orang berkantong tebal dengan penghasilan selangit. Kenyataanya permintaan akan hunian esklusif terus mengalir, manandakan jumlah orang kaya khususnya di Indonesia sangat banyak. Pertanyaannya adalah, apakah mereka bahagia?
Misalkan ada survey untuk menentukan tingkat kebahagiaan dengan responden antara orang-orang kalangan atas dengan kelas menengah atau bos-bos dengan karyawan rendahan. Saya jamin, hasilnya tingkat kebahagiaan mereka tidak akan jauh berbeda. Tidak semua orang kaya bahagia dan dan tidak semua orang miskin (tapi jangan miskin-miskin amat) menderita. Jadi menurut saya, kekayaan tidak menjamin orang itu bisa bahagia dan uang bukan tolak ukur utama untuk menentukan kebahagiaan.
Yang membedakan mungkin adalah masalah persepsi saja. Contohnya adalah, seorang tukang becak akan senang bukan kepalang jika diberi uang sejuta rupiah. Tapi jika uang sebesar itu diberikan kepada pengusaha sukses, maka akan ditanggapi dengan biasa saja, dia baru senang jika mendapatkan uang seratus juta rupiah. Mendapatkan uang satu juta rupiah dibanding seratus juta rupiah mungkin memberikan tingkat kebahagiaan yang sama dengan dua subjek berbeda. Baca entri selengkapnya »
Dua Hari Di Pulau Pombo
Dari kejauhan pualu itu tampak teramat kecil. Perahu kami terus berderu menyibak ombak yang tenang. Tujuan semakin dekat, namun pulau itu tetap tak menunjukkan keagungannya. Hanya terlihat pepohonan yang berdiri diatas bentangan pasir putih tak seberapa luasnya.
Didepanku, terbingkai lukisan pamandangan alam karya Maha Pencipta. Degradasi warna pantai yang mengelilingi pulau kerdil, ikan-ikan pun tampak menari-nari diantara karang yang bersebaran, sedangkan diatas, burung-burung berkejaran menantang kencangnya angin. Sungguh harmonisasi alam yang sempurna, pemandangan yang menyejukkan mata dan hati.
Akhirnya perahu kayu kami telah mencapai bibir pantai. Kita sudah sampai di Pulau Pombo, pulau bisu tak berpenghuni.

Karena tidak ada dermaga di pulau itu, kapal tidak bisa merapat secara sempurna. Beberapa ABK hanya mengikat tali kapal ke tiang yang di tanam di bibir pulau. Saya bergegas turun dan menceburkan kaki saya ke pantai, tersasa sejuk setelah setengah jam berjemur diatas kapal yang tidak ada atapnya.
Pulau Pombo terletak sekitar 5 km dari pulau Ambon bagian timur, luasnya tidak lebih dari 4 km2. Disamping pulau itu masih ada dua pulau kerdil lagi yang jaraknya berdekatan. Jika air laut sedang surut, ketiga pulau tersebut hampir menyatu.
Oleh Pemerintah Propinsi Maluku, Pombo dijadikan lahan konservasi yang dilindungi. Hingga saat ini, pulau tersebut tidak diijinkan untuk di huni oleh penduduk secara permanen. Terdapat beberapa tanaman dikembangkan disana, membuat pulau kecil itu semakin hijau. Baca entri selengkapnya »


